Mengapa membawa anak-anak lain seperti keponakan/ anak sudara/ anak tetangga/ anak teman kerap dijadikan sebagai wadah "pemicu hamil" untuk memiliki anak pertama itu ide buruk?
Menurutku ini tradisi yang benar-benar buruk, bahkan sangat buruk. Apakah ini terkait mitos? Tidak juga, karena aku gak terlalu peduli pada hasilnya, dan aku jauh lebih peduli pada proses hingga dampak yang dihasilkan dalam jangka panjang. Tapi tau alasannya apa? untuk mereka yang kerap membawa keponakan kecil/ anak teman/ anak tetangga seringnya dibawa sebagai anak-anak sementara mereka hanya sekedar untuk pemicu memiliki anak dengan berpura-pura, bukan atas dasar ketulusan.
Ya. Bermain keluarga-keluargaan, bermain punya anak-anakan. Saking tidak setulus itu bahkan aku menggambarkan ini dengan tidak cukup baik maknanya. Hal ini aku observasi dalam beberapa stigma dan konflik sosial yang aku temui. Manipulasi main keluarga-keluargaan. Manipulasi cinta terhadap perasaan "anak-anak pemicu" yang mereka bawa seakan anak-anak ini pada akhirnya merasa dicintai. Jika itu benaran tulus hingga seterusnya, maka tentu saja itu baik.
Lalu darimana aku bisa mengatakan hal ini seringnya berujung tidak baik? Berujung tidak tulus? Berujung kepura-puraan?
Ketika pasangan yang berharap dikarunai anak ini diberikan anak kandung pada akhirnya.
"............"
Jujur membayangkannya saja sudah sakit, karena dari yang aku amati, anak-anak bohongan yang mereka bawa pada mulanya bertujuan sebagai pemicu memiliki anak kandung ini akhirnya mulai disisihkan, mulai diabaikan ketika dikembalikan kepada orang tua kandung mereka. Kerap anak-anak ini pada akhirnya dibanding-bandingkan, direndahkan, dihina bahkan tidak jarang mereka diperlakukan buruk oleh orang tua bohongan mereka ini sebelumnya.
Tau gak kenapa bisa gitu?
Karena orang tua bohongan mereka ini sudah merasa memiliki anak kandung dan merasa paling tau bagaimana anak-anak bohongan (anak-anak pemicu) mereka ini baik buruknya. Ya, hanya karena mereka pernah merasa memiliki dan merawat anak-anak ini dalam waktu singkat hingga mereka memiliki anak kandung. Mereka merasa menjadi sangat amat berjasa, berhak untuk menghakimi anak-anak bohongan yang telah mereka manipulasi ini, menghakimi bahwa anak kandung yang akhirnya mereka miliki jauh lebih baik/unggul/hebat ketimbang anak bohongannya yang awalnya digunakan sebagai "pemicu hamil" ini.
Lalu pasti ada saja yang berpendapat, "kan memang cinta ke anak kandung itu wajar saja lebih besar". Iya memang. Anggap saja seperti itu. Tapi proses memanipulasi, mencintai anak-anak polos lain yang tak berdosa secara bohong, menggunakan ketulusan mereka, setelah itu kamu aniaya mereka secara fisik maupun emosional, itu menurut ku hal yang hina bahkan sadis. Ibarat kamu merebut permen yang telah kamu berikan dari tangan-tangan halus mereka.
Ini tradisi yang jahat dan sangat gak baik. Sayangnya gak semua orang sadar, karena orang-orang hanya berfokus pada hasil untuk diri mereka sendiri. Benar, oportunis.
Waahhh akhirnya hamil juga.. punya anak pertama juga.. ternyata timang-timang bawa anak saudara/ anak teman/ anak tetangga kayak anak sendiri itu berhasil juga ya.. buat dapat anak.. (?)
Bahagia di status sosial masyarakat, namun tidak oleh anak-anak pemicu yang mereka bawa. Tapi ya memang ada sebagian kecil dari mereka yang membawa anak-anak pemicu ini tetap dicintai dan diberi kasih sayang yang setara, seperti mereka bawa dari awal meskipun mereka telah dikarunai anak kandung mereka sendiri. Sayangnya tidak kebanyakan orang seperti itu.
Lalu bagaimana solusinya? Harus dipahami alangkah baiknya meregulasi diri sendiri terlebih dahulu, meregulasi niat seterusnya apakah yang dilakukan itu bentuk sebuah ketulusan atau ketulusan yang dipura-purakan? Kalau jawabannya ragu mending Tidak Usah. Ayolah.. anak kecil itu bagaikan kertas putih, kamu bersikap jahat, mereka akan selau bilang kamu baik. Gak pantas menggunakan mereka dengan kepalsuan mu. Seiring berjalannya waktu, mereka beranjak dewasa akan memahami betapa sakitnya rasa mereka terhadap mu.
Jadi memang tradisi ini benar-benar sulit. Tidak perlu dinormalkan untuk dilakukan jika kamu tidak memiliki jiwa tulus tingkat tinggi. Berikhtiarlah sebagaimana cara kamu ikhlas melakukannya.
Cheers!
Tita, 2026







0 comments:
Posting Komentar