Muses

Senin, 16 Maret 2026

Self Regulation & Improvisation

March 16, 2026


It's been years. Two years? Four? Then I realized the attachment is suck. Mungkin memang aku yang belum siap untuk melepaskan tiap kenangan yang tertinggal. Entah kenapa disaat runtuh semua memori kenangan itu berputar kembali dengan sendirinya. Aku gak nyaman. Kemelekatan terhadap memori yang aku gak nyaman, aku gak suka. Aku kehilangan rasa aman ku sementara akan hal itu. 

Rings a bell? piece of shit. it's still lingering in my mind. The person. The people. GOSH. Just inhale my breath for secs but hell no. Sejujurnya aku gak ngerti lagi harus jelasin lewat apa dan gimana. Mungkin aku hanya kurang sibuk? tapi aku sudah mencoba dan mengusahakan untuk sibuk, hanya saja waktu mengatakan belum.... (?) Mungkin mulai sedikit membuka jalannya untuk ku sibuk. Rasanya aku agak menyesali pintaku empat tahun yang lalu,

 "pulang nanti mungkin aku akan tinggal selama satu atau dua tahun dulu". 

Setelah ku sadari ternyata pulang tidak senyaman itu, pulang tidak sehangat itu. Tch. Aku tahu, aku terlalu peka untuk hal ini. Setidaknya ini sudah dua tahun aku pulang, dalam satu, dua tahun ini setidaknya aku mengisi waktu ku untuk hal-hal yang penting. Anak-anak tangga setelah COVID ini terlihat menyebalkan. Lucutan perang para boomer memperkeruh suasana, hati para pembesar, dan orang tua yang tidak pernah mengerti makna sabar serta syukur.

Harapan terlihat kabur, mulut orang-orang semakin tajam seperti baru saja diasah. Mereka hanya tidak paham. Mereka hanya tidak mengerti. Sepertinya aku belum cukup untuk mencintai diriku sendiri lebih.. lebih dan lebih lagi. Boundaries. Itu yang ada di kepala ku saat ini. Ya, itu jawabannya. Mungkin dengan sedikit sentuhan bertualang ke tempat yang belum pernah aku jelajahi seorang diri, lagi. Tapi untuk sampai ke anak tangga itu, aku butuh waktu sedikit lagi saja. Di sana, berapa lama? Satu bulan? Dua bulan? Tiga? Mungkin akan kucoba satu bulan dahulu saja, nanti. 

........ Entahlah ........

Akhir-akhir ini kehidupan terlihat kehilangan maknanya, semua saling berpacu, saling mengejar, aku merasa ini benar-benar rumit. Layar jendela menampilkan segala tetek-bengek dan perintilannya, gosh, dang it. That person. Again. Aku merasa bodoh banget, astaga. Maybe, I just feel a bit lonely. But hey! thanks to my bestie, she keeps sending meme reels on DM for me. Well, she is exhausted also maybe more than me (?). Kemelekatan begitu menyebalkan. 

Kadang tuh aku suka bingung, ini jalannya kemana? ke sana? huh? apa sih? ini menyebalkan. Aku rasa dunia emang lagi benar-benar gak sehat, ketimbang para orang tua kerap menyalahkan keputusan dan pilihan orang lain atau anak sendiri, harusnya mereka sadar perputaran kondisi dunia udah jauh beda ketimbang dua puluh atau empat puluh tahun yang lalu. Itu gak sama. Tapi kan selama setiap keputusan dan pilihan orang lain atau anak sendiri tidak merubah sistem dunia ke arah yang menyebalkan seperti para boomer itu lakukan seharusnya oke dong? Kadang aku merasa, entah ini aku atau yang lain juga sama, generasi boomer dan  terlihat seperti sumber pencipta masalah dalam sistem? tapi lebih banyak boomer sih yang kayak gini ya, dari kacamata ku sendiri. Those are just my opinions. Take it easy.

That person again. Harusnya tuh.. The person should be like Sylus in my dua since two years ago 'till now. Dunia terasa menyebalkan, all things are messed up.

Harusnya aku gak usah pulang dari awal, harusnya aku memilih diriku sendiri ketimbang para generasi x. Tapi.. Oh ayolah.. Setidaknya di sisi lain setengah dari urusan ku berjalan, tapi aku sedikit kesulitan untuk fokus di sini.

harusnya aku tidak usah pulang... 
karena kemelekatan begitu menyebalkan ketika kamu tidak dipahami. Tidak dimengerti. 
Kemelekatan begitu menyebalkan ketika dia atau mereka memberi mu setengah-setengah. 

Sedikit kita keluar dari topik untuk membahas generasi X. Oke.. Mari kita singgung ini sedikit, telur yang dihasilkan dari generasi boomer atau silent generation, mereka berpikir jika semakin tua kita harus semakin banyak beribadah. Ya.. itu gak salah. Tapi ada hal yang tertinggal dan mereka tidak pernah pelajari dari kesalahan generasi boomer dan silent generation. Yaitu tidak menjadikan dalih-dalih ibadah  untuk menyakiti orang lain yang tidak setinggi ibadah yang sedang mereka lakukan. Ya, tidak menjadikan diri mereka sosok yang menyebalkan atas dalil ibadah dan itu hal menyebalkan yang banyak dilakukan oleh generasi boomer dan silent generation. Dan tidak semua generasi x itu adalah sosok yang ikhlas.

Oke, sekarang intinya gini. Pasang batasan.. untuk mendapatkan fokus dan kedamaian aku sendiri. At least, aku tau anak tangga pertama ku mulai dari sini. Karena aku tau, aku tidak akan pernah nyaman jika diberi, dimengerti, dan dipahami setengah-setengah.

Suck the attachment. I am not your people as you wished, dude. Cause, You are not Sylus.


Tita, 2026.

0 comments:

Posting Komentar