Muses

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 14 April 2026

The thing is in last 20s

Seringnya usia 20-an sering disebut sebagai pengalaman quarter life crisis, kebanyakan benar. Gak jarang akupun juga merasa feel so empty, tapi di sisi lain aku merasa energi ku berlebih tapi sering capek juga dalam waktu bersamaan. Kita sebelumnya selama ini lebih terarah, sekolah, belajar, PR, tugas, main sama teman.. Setelah semua pendidikan selesai seringnya kita merasa bingung, well akupun juga gitu hahah. Semua mulai sibuk menata hidup dan pikirannya masing-masing. Seiring di usia 20s ini beberapa hal yang aku sadari terlebih untuk diriku sendiri, kuantitas tidak sebegitu bagus terhadap kualitas.

Dulu orang tua yang merasa dirinya paling bijak mengatakan bertemanlah dengan siapa saja dan sebanyaknya, tapi mereka lupa energi manusia itu terbatas bahkan dalam segi emosi. Enthalah, bagiku berteman dengan semua orang seperti hidup tidak memiliki pendirian dan batas. Pertemanan adalah tujuan bagaimana cara kita ingin diperlakukan dan punya arah yang jelas. Dan ini yang tidak semua orang tua sadari dan pelajari dalam berbagi energi mereka, aku juga gak mau sih energi ku mutar-mutar disitu aja tidak ada perkembangan.

Ngumpul, yang penting ngumpul. Makan gak makan yang penting ngumpul. Gak ah, mana aku mau yang dikit-dikit ngumpul menghabiskan waktu. Aku merasa budaya ngumpul tanpa memilih lingkaran pertemanan dan keluarga hanya membuat hidup terjebak dan stuck di situ-situ aja. Gak ada pertumbuhan yang mendalam untuk memahami diri sendiri.

Jadi yang aku sadari mengapa di usia 20-an sering terasa sepi ketika kita lebih terfokus kepada diri sendiri ketimbang orang lain? Karena kita bertumbuh, kita sedang belajar memahami diri kita untuk membangun kehidupan yang lebih bermakna 5, 10, 15, 20, tahun bahkan seterusnya yang akan datang. Lalu, pasti ada saja yang berpendapat kalau tidak berhasil bagaimana? Faktanya hidup seperti perjudian dan pertaruhan. Lebih baik bertaruh kepada memperbaiki diri, pikiran dan lingkungan ketimbang membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak membangun.

Orang-orang yang hidupnya gila berhutang kabur sana-sini pura-pura tidak tahu, dia akan terus dalam keadaan seperti itu jika dia tidak ingin memperbaiki. Orang-orang yang gemar menipu, mencaci, merendahkan, kabur dari masalah yang dia perbuat, tidak bertanggung jawab atas kesalahannya bahkan hal buruk lainnya, mereka akan terus berada dilingkaran itu. Jadi hal-hal kayak gini emang bikin menyesakkan sih ya lama-lama, mikirinnya aja capek, ngabisin energi, apalagi berada di lingkungan seperti itu.

Makin hari sosial media semakin banyak jenisnya, rasanya aku mual. Berbagai pendapat kalangan tingkat sosial dari yang masuk akal hingga tidak masuk akal membuatku ingin muntah. Di sana aku semakin mengerti, karakter itu segalanya dari apa yang mereka tulis bukan sekedar yang mereka ucapkan, karena mulut bisa saja terasa manis tidak lagi setajam jari mengetik? Jaripun bisa menjadi pengganti lidah yang tajam semenjak hampir semua orang menggunakan sosial media. Bahkan sikap menghindar dari perbuatan yang bikin orang lain kesulitan juga bukan tipikal orang yang bertanggung jawab.

Rasanya satu atau dua bahkan maksimal tiga sosial media yang aktif saja sudah cukup bagi ku. Lebih baik, satu sajalah. bayangkan betapa terkurasnya sisi emosional setiap membaca berbagai tulisan, masalah, berita, drama dan komentar di sosial media. Sungguh melelahkan. Intorvert? ah enggak juga sih ya, aku malah lebih suka berteman, cukup extrovert hanya saja semakin menjadi pemilih dalam berinteraksi.

Faktanya tidak semua di usia 20 tahunan memiliki timing yang sama, karena kita hanya perlu bertaruh kemana energi kita ingin dipertaruhkan. Validasi orang-orang? atau fokus pada keinginan diri sendiri? Intinya bertanggung jawab atas pilihan sediri itu memang wajib, aku gak bilang itu jauh lebih baik. Karena aku menemukan beberapa orang egois di usia 20s untuk tujuan dirinya sendiri namun merugikan dan seringnya menyulitkan orang lain.

Jadi pastikan tujuan mu tidak menyulitkan orang lain. Jika menyulitkan beri kompensasi. Tapi sepertinya, tidak perlu dilibatkan, karena seringnya jika mereka meminta untuk terlibat, energi mereka tidak sama dengan kita alhasil mereka kerap membuat masalah, marah dan mengamuk, mungkin bisa jadi kita yang ikutan marah dan kecewa karenanya. Jadi.. aku rasa melibatkan orang-orang untuk 20s at the beginning, bukan ide yang cukup bagus. Asal jangan berkarakter sok tau aja sih. 

Jadi in my last 20s I guess.. and for whole my 20s, lol. Aku lebih banyak belajar memahami diri sendiri, wajah manusia terlihat lebih jelas ketika aku tidak menyebutkan apa yang aku lakukan secara spesifik dan perubahan wajah manusia ketika aku telah menyebutkan apa yang aku lakukan secara spesifik juga tentunya. Dan yang paling langka adalah, manusia dengan wajah yang tidak berubah ketika mereka tahu ataupun tidak tau, namun mereka tetap ada. No comparison.

Cheers. Tita, 2026. 

Minggu, 05 April 2026

Tradisi membawa anak-anak lain sebagai pemicu hamil? sebagai pemicu memiliki anak pertama?

Mengapa membawa anak-anak lain seperti keponakan/ anak sudara/ anak tetangga/ anak teman kerap dijadikan sebagai wadah "pemicu hamil" untuk memiliki anak pertama itu ide buruk?

Menurutku ini tradisi yang benar-benar buruk, bahkan sangat buruk. Apakah ini terkait mitos? Tidak juga, karena aku gak terlalu peduli pada hasilnya, dan aku jauh lebih peduli pada proses hingga dampak yang dihasilkan dalam jangka panjang. Tapi tau alasannya apa? untuk mereka yang kerap membawa keponakan kecil/ anak teman/ anak tetangga seringnya dibawa sebagai anak-anak sementara mereka hanya sekedar untuk pemicu memiliki anak dengan berpura-pura, bukan atas dasar ketulusan.

Ya. Bermain keluarga-keluargaan dan punya anak-anakan. Tidak setulus itu bahkan aku menggambarkan ini dengan makna yang sudah rusak. Hal ini aku observasi dalam beberapa stigma dan konflik sosial yang aku temui. Manipulasi main keluarga-keluargaan. Manipulasi cinta terhadap perasaan "anak-anak pemicu" yang mereka bawa seakan anak-anak ini pada akhirnya merasa dicintai. Jika itu benar tulus hingga seterusnya, maka tentu saja itu baik.

Lalu darimana aku bisa mengatakan hal ini seringnya berujung tidak baik? Berujung tidak tulus? Berujung kepura-puraan?

Ketika pasangan yang berharap dikarunai anak ini diberikan anak kandung pada akhirnya.

 

"............"

 

Jujur membayangkannya saja sudah sakit, karena dari yang aku amati, anak-anak bohongan yang mereka bawa pada mulanya bertujuan sebagai pemicu memiliki anak kandung ini akhirnya mulai disisihkan dan diabaikan ketika dikembalikan kepada orang tua kandung mereka. Kerap anak-anak ini pada akhirnya dibanding-bandingkan, direndahkan, dihina bahkan tidak jarang mereka  diperlakukan buruk oleh orang tua bohongan mereka ini sebelumnya. 

Tau gak kenapa bisa gitu? 

Karena orang tua bohongan mereka ini sudah merasa memiliki anak kandung dan merasa paling tau bagaimana anak-anak bohongan (anak-anak pemicu) mereka ini baik buruknya. Ya, hanya karena mereka pernah merasa memiliki dan merawat anak-anak ini dalam waktu singkat hingga mereka memiliki anak kandung. Mereka merasa menjadi sangat amat berjasa, berhak untuk menghakimi anak-anak bohongan yang telah mereka manipulasi ini, menghakimi bahwa anak kandung yang akhirnya mereka miliki jauh lebih baik/unggul/hebat ketimbang anak bohongannya yang awalnya digunakan sebagai "pemicu hamil" ini.


Lalu pasti ada saja yang berpendapat, "kan memang cinta ke anak kandung itu wajar saja lebih besar". Iya memang. Anggap saja seperti itu. Tapi proses memanipulasi, mencintai anak-anak polos lain yang tak berdosa secara bohong, menggunakan ketulusan mereka, setelah itu kamu aniaya mereka secara fisik maupun emosional, itu menurut ku hal yang hina bahkan sadis. Ibarat kamu merebut permen yang telah kamu berikan dari tangan-tangan halus mereka.

Ini tradisi yang jahat dan sangat gak baik. Sayangnya gak semua orang sadar, karena orang-orang hanya berfokus pada hasil untuk diri mereka sendiri. Benar, oportunis.  


Waahhh akhirnya hamil juga.. punya anak pertama juga.. ternyata timang-timang bawa anak saudara/ anak teman/ anak tetangga kayak anak sendiri itu berhasil juga ya.. buat dapat anak.. (?)


Bahagia di status sosial masyarakat, namun tidak oleh anak-anak pemicu yang mereka bawa. Tapi ya memang ada sebagian kecil dari mereka yang membawa anak-anak pemicu ini tetap dicintai dan diberi kasih sayang yang setara, seperti mereka bawa dari awal meskipun mereka telah dikarunai anak kandung mereka sendiri. Sayangnya tidak kebanyakan orang seperti itu.

Lalu bagaimana solusinya? Harus dipahami alangkah baiknya meregulasi diri sendiri terlebih dahulu, meregulasi niat seterusnya apakah yang dilakukan itu bentuk sebuah ketulusan atau ketulusan yang dipura-purakan? Kalau jawabannya ragu mending Tidak Usah. Ayolah.. anak kecil itu bagaikan kertas putih, kamu bersikap jahat, mereka akan selau bilang kamu baik. Gak pantas menggunakan mereka dengan kepalsuan mu. Seiring berjalannya waktu, mereka beranjak dewasa akan memahami betapa sakitnya rasa mereka terhadap mu.

Jadi memang tradisi ini benar-benar sulit. Tidak perlu dinormalkan untuk dilakukan jika kamu tidak memiliki jiwa tulus tingkat tinggi. Berikhtiarlah sebagaimana cara kamu ikhlas melakukannya.

Cheers!

Tita, 2026

 

Senin, 16 Maret 2026

Self Regulation & Improvisation

March 16, 2026


It's been years. Two years? Four? Then I realized the attachment is suck. Mungkin memang aku yang belum siap untuk melepaskan tiap kenangan yang tertinggal. Entah kenapa disaat runtuh semua memori kenangan itu berputar kembali dengan sendirinya. Aku gak nyaman. Kemelekatan terhadap memori yang aku gak nyaman, aku gak suka. Aku kehilangan rasa aman ku sementara akan hal itu. 

Rings a bell? piece of shit. it's still lingering in my mind. The person. The people. GOSH. Just inhale my breath for secs but hell no. Sejujurnya aku gak ngerti lagi harus jelasin lewat apa dan gimana. Mungkin aku hanya kurang sibuk? tapi aku sudah mencoba dan mengusahakan untuk sibuk, hanya saja waktu mengatakan belum.... (?) Mungkin mulai sedikit membuka jalannya untuk ku sibuk. Rasanya aku agak menyesali pintaku empat tahun yang lalu,

 "pulang nanti mungkin aku akan tinggal selama satu atau dua tahun dulu". 

Setelah ku sadari ternyata pulang tidak senyaman itu, pulang tidak sehangat itu. Tch. Aku tahu, aku terlalu peka untuk hal ini. Setidaknya ini sudah dua tahun aku pulang, dalam satu, dua tahun ini setidaknya aku mengisi waktu ku untuk hal-hal yang penting. Anak-anak tangga setelah COVID ini terlihat menyebalkan. Lucutan perang para boomer memperkeruh suasana, hati para pembesar, dan orang tua yang tidak pernah mengerti makna sabar serta syukur.

Harapan terlihat kabur, mulut orang-orang semakin tajam seperti baru saja diasah. Mereka hanya tidak paham. Mereka hanya tidak mengerti. Sepertinya aku belum cukup untuk mencintai diriku sendiri lebih.. lebih dan lebih lagi. Boundaries. Itu yang ada di kepala ku saat ini. Ya, itu jawabannya. Mungkin dengan sedikit sentuhan bertualang ke tempat yang belum pernah aku jelajahi seorang diri, lagi. Tapi untuk sampai ke anak tangga itu, aku butuh waktu sedikit lagi saja. Di sana, berapa lama? Satu bulan? Dua bulan? Tiga? Mungkin akan kucoba satu bulan dahulu saja, nanti. 

........ Entahlah ........

Akhir-akhir ini kehidupan terlihat kehilangan maknanya, semua saling berpacu, saling mengejar, aku merasa ini benar-benar rumit. Pita kaset yang kusut. Layar jendela menampilkan segala tetek-bengek dan perintilannya, gosh, dang it. That person. Again. Aku merasa bodoh banget, astaga. Maybe, I just feel a bit lonely. But hey! thanks to my bestie, she keeps sending meme reels on DM for me. Well, she is exhausted also maybe more than me (?). Kemelekatan begitu menyebalkan. 

Kadang tuh aku suka bingung, ini jalannya kemana? ke sana? huh? apa sih? ini menyebalkan. Aku rasa dunia emang lagi benar-benar gak sehat, ketimbang para orang tua kerap menyalahkan keputusan dan pilihan orang lain atau anak sendiri, harusnya mereka sadar perputaran kondisi dunia udah jauh beda ketimbang dua puluh atau empat puluh tahun yang lalu. Itu gak sama. Tapi kan selama setiap keputusan dan pilihan orang lain atau anak sendiri tidak merubah sistem dunia ke arah yang menyebalkan seperti para boomer itu lakukan seharusnya oke dong? Kadang aku merasa, entah ini aku atau yang lain juga sama, generasi boomer dan  terlihat seperti sumber pencipta masalah dalam sistem? tapi lebih banyak boomer sih yang kayak gini ya, dari kacamata ku sendiri. Those are just my opinions. Take it easy.

That person again. Harusnya tuh.. The person should be like Sylus in my dua since two years ago 'till now. Dunia terasa menyebalkan, all things are messed up.

Harusnya aku gak usah pulang dari awal, harusnya aku memilih diriku sendiri ketimbang para generasi x. Tapi.. Oh ayolah.. Setidaknya di sisi lain setengah dari urusan ku berjalan, tapi aku sedikit kesulitan untuk fokus di sini.

harusnya aku tidak usah pulang... 
karena kemelekatan begitu menyebalkan ketika kamu tidak dipahami. Tidak dimengerti. 
Kemelekatan begitu menyebalkan ketika dia atau mereka memberi mu setengah-setengah. 

Sedikit kita keluar dari topik untuk membahas generasi X. Oke.. Mari kita singgung ini sedikit, telur yang dihasilkan dari generasi boomer atau silent generation, mereka berpikir jika semakin tua kita harus semakin banyak beribadah. Ya.. itu gak salah. Tapi ada hal yang tertinggal dan mereka tidak pernah pelajari dari kesalahan generasi boomer dan silent generation. Yaitu tidak menjadikan dalih-dalih ibadah  untuk menyakiti orang lain yang tidak setinggi ibadah yang sedang mereka lakukan. Ya, tidak menjadikan diri mereka sosok yang menyebalkan atas dalil ibadah dan itu hal menyebalkan yang banyak dilakukan oleh generasi boomer dan silent generation. Dan tidak semua generasi x itu adalah sosok yang ikhlas.

Oke, sekarang intinya gini. Pasang batasan.. untuk mendapatkan fokus dan kedamaian aku sendiri. At least, aku tau anak tangga pertama ku mulai dari sini. Karena aku tau, aku tidak akan pernah nyaman jika diberi, dimengerti, dan dipahami setengah-setengah.

Suck the attachment. I am not your people as you wished, dude. Cause, You are not Sylus.


Tita, 2026.

Rabu, 14 Januari 2026

Tentang Belajar Melepaskan Harapan

Tentang Belajar Melepaskan Harapan

Pekanbaru, Januari 2026

Ada fase dalam hidup di mana seseorang tidak benar-benar hadir, tapi juga tidak sepenuhnya pergi.
Dan ternyata, fase seperti itu paling melelahkan.

Aku pernah berada di titik di mana perhatian kecil terasa besar, usaha setengah terasa penuh, dan kehadiran yang tidak konsisten terasa cukup. Bukan karena itu memang cukup—tetapi karena aku belum sepenuhnya sadar apa yang sebenarnya aku butuhkan.

Aku belajar bahwa rasa aman bukan datang dari kode, isyarat, atau perhatian sesekali. Rasa aman datang dari kejelasan. Dari seseorang yang tahu apa yang ia inginkan, dan berani berdiri di sana tanpa membuat orang lain menebak-nebak.

Dulu, aku mengira memahami seseorang berarti menunggu mereka siap. Sekarang aku mengerti, memahami diri sendiri jauh lebih penting. Karena menunggu terlalu lama pada akhirnya membuatku menunda kebahagiaanku sendiri.

Ada banyak hal kecil yang dulu terasa bermakna. Percakapan sederhana, perhatian yang hangat, rasa ingin tahu yang tulus. Semua itu nyata. Tapi ternyata, ketulusan tanpa keberanian untuk memilih tetap akan berhenti di tengah jalan.

Aku tidak menyesali pertemuan itu. Justru dari sana aku belajar dengan jujur:
aku membutuhkan pasangan yang hadir sepenuhnya, bukan setengah.
yang mempertimbangkan aku, bukan hanya menyukaiku.
yang memilih, bukan hanya merasa.

Hari ini, aku tidak lagi marah. Tidak juga berharap.
Aku hanya bersyukur—karena akhirnya aku mengerti diriku sendiri dengan lebih utuh.

Dan itu cukup.

Kalau suatu hari aku jatuh cinta lagi—dan itu sosok Sylus—
aku akan jatuh tanpa harus kehilangan diriku sendiri

Bahkan, aku akan jatuh sebagai versi diriku yang lebih utuh
bersama sosok itu.



Terkasih dan tersayang, 

Tita Khairani



Tentang Sesuatu yang Pernah Hampir

Pekanbaru, Januari 2026

Waktu dan musim telah melewatiku berkali-kali. Dalam perjalanan itu, aku akhirnya memahami bahwa ada fase hidup di mana harapan tumbuh lebih cepat daripada kepastian. Dan di sanalah aku pernah terjebak cukup lama.

Aku pernah mengira perhatian kecil adalah tanda kesungguhan. Ketertarikan yang hangat terasa seperti komitmen. Usaha yang tidak konsisten tetap kuanggap berarti, karena aku belum sepenuhnya belajar membedakan antara niat baik dan keberanian untuk memilih.

Ada banyak detail yang dulu terasa istimewa. Ketertarikan pada hal-hal kecil tentang diriku, usaha untuk memahami latar belakangku, rasa ingin tahu yang tulus, percakapan yang terasa dekat meski jarak terbentang jauh. Semua itu nyata, dan aku tidak menyangkalnya. Namun waktu mengajarkanku satu hal penting: ketulusan tanpa kejelasan akan selalu berhenti di tengah jalan.

Aku belajar bahwa tidak semua orang yang datang dengan hangat mampu tinggal dengan utuh. Ada yang hadir sebentar, memberi kesan mendalam, lalu memilih arah hidup yang tidak menyertakan aku di dalamnya. Dan itu tidak salah—hanya tidak sejalan.

Dulu aku berharap diyakinkan. Sekarang aku mengerti bahwa keyakinan tidak seharusnya diminta. Ia datang dengan sendirinya, dari orang yang tahu apa yang ia inginkan dan berani bertanggung jawab atas pilihannya.

Aku bersyukur atas setiap pertemuan yang pernah terjadi. Dari sana aku belajar mengenali diriku sendiri dengan lebih jujur—tentang batasan, tentang kebutuhan, dan tentang jenis cinta yang pantas kuperjuangkan. Bukan cinta yang penuh tanda tanya, melainkan cinta yang hadir dengan keputusan.

Hari ini, aku tidak membawa rindu, juga tidak menyimpan penyesalan. Aku hanya membawa pemahaman: bahwa memilih diriku sendiri bukanlah kehilangan, melainkan bentuk keberanian.

Dan di titik ini, aku baik-baik saja.

Kalau suatu hari aku jatuh cinta lagi—dan itu sosok Sylus—
aku akan jatuh tanpa harus kehilangan diriku sendiri

Bahkan, aku akan jatuh sebagai versi diriku yang lebih utuh
bersama sosok itu.


Terkasih dan tersayang, 

Tita Khairani