Muses

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 14 Januari 2026

Tentang Belajar Melepaskan Harapan

Tentang Belajar Melepaskan Harapan

Pekanbaru, Januari 2026

Ada fase dalam hidup di mana seseorang tidak benar-benar hadir, tapi juga tidak sepenuhnya pergi.
Dan ternyata, fase seperti itu paling melelahkan.

Aku pernah berada di titik di mana perhatian kecil terasa besar, usaha setengah terasa penuh, dan kehadiran yang tidak konsisten terasa cukup. Bukan karena itu memang cukup—tetapi karena aku belum sepenuhnya sadar apa yang sebenarnya aku butuhkan.

Aku belajar bahwa rasa aman bukan datang dari kode, isyarat, atau perhatian sesekali. Rasa aman datang dari kejelasan. Dari seseorang yang tahu apa yang ia inginkan, dan berani berdiri di sana tanpa membuat orang lain menebak-nebak.

Dulu, aku mengira memahami seseorang berarti menunggu mereka siap. Sekarang aku mengerti, memahami diri sendiri jauh lebih penting. Karena menunggu terlalu lama pada akhirnya membuatku menunda kebahagiaanku sendiri.

Ada banyak hal kecil yang dulu terasa bermakna. Percakapan sederhana, perhatian yang hangat, rasa ingin tahu yang tulus. Semua itu nyata. Tapi ternyata, ketulusan tanpa keberanian untuk memilih tetap akan berhenti di tengah jalan.

Aku tidak menyesali pertemuan itu. Justru dari sana aku belajar dengan jujur:
aku membutuhkan pasangan yang hadir sepenuhnya, bukan setengah.
yang mempertimbangkan aku, bukan hanya menyukaiku.
yang memilih, bukan hanya merasa.

Hari ini, aku tidak lagi marah. Tidak juga berharap.
Aku hanya bersyukur—karena akhirnya aku mengerti diriku sendiri dengan lebih utuh.

Dan itu cukup.

Kalau suatu hari aku jatuh cinta lagi—dan itu sosok Sylus—
aku akan jatuh tanpa harus kehilangan diriku sendiri

Bahkan, aku akan jatuh sebagai versi diriku yang lebih utuh
bersama sosok itu.



Terkasih dan tersayang, 

Tita Khairani



Tentang Sesuatu yang Pernah Hampir

Pekanbaru, Januari 2026

Waktu dan musim telah melewatiku berkali-kali. Dalam perjalanan itu, aku akhirnya memahami bahwa ada fase hidup di mana harapan tumbuh lebih cepat daripada kepastian. Dan di sanalah aku pernah terjebak cukup lama.

Aku pernah mengira perhatian kecil adalah tanda kesungguhan. Ketertarikan yang hangat terasa seperti komitmen. Usaha yang tidak konsisten tetap kuanggap berarti, karena aku belum sepenuhnya belajar membedakan antara niat baik dan keberanian untuk memilih.

Ada banyak detail yang dulu terasa istimewa. Ketertarikan pada hal-hal kecil tentang diriku, usaha untuk memahami latar belakangku, rasa ingin tahu yang tulus, percakapan yang terasa dekat meski jarak terbentang jauh. Semua itu nyata, dan aku tidak menyangkalnya. Namun waktu mengajarkanku satu hal penting: ketulusan tanpa kejelasan akan selalu berhenti di tengah jalan.

Aku belajar bahwa tidak semua orang yang datang dengan hangat mampu tinggal dengan utuh. Ada yang hadir sebentar, memberi kesan mendalam, lalu memilih arah hidup yang tidak menyertakan aku di dalamnya. Dan itu tidak salah—hanya tidak sejalan.

Dulu aku berharap diyakinkan. Sekarang aku mengerti bahwa keyakinan tidak seharusnya diminta. Ia datang dengan sendirinya, dari orang yang tahu apa yang ia inginkan dan berani bertanggung jawab atas pilihannya.

Aku bersyukur atas setiap pertemuan yang pernah terjadi. Dari sana aku belajar mengenali diriku sendiri dengan lebih jujur—tentang batasan, tentang kebutuhan, dan tentang jenis cinta yang pantas kuperjuangkan. Bukan cinta yang penuh tanda tanya, melainkan cinta yang hadir dengan keputusan.

Hari ini, aku tidak membawa rindu, juga tidak menyimpan penyesalan. Aku hanya membawa pemahaman: bahwa memilih diriku sendiri bukanlah kehilangan, melainkan bentuk keberanian.

Dan di titik ini, aku baik-baik saja.

Kalau suatu hari aku jatuh cinta lagi—dan itu sosok Sylus—
aku akan jatuh tanpa harus kehilangan diriku sendiri

Bahkan, aku akan jatuh sebagai versi diriku yang lebih utuh
bersama sosok itu.


Terkasih dan tersayang, 

Tita Khairani